Penyakit bawaan makanan (foodborne diseases)

Desember 4, 2010

Penyakit bawaan makanan (foodborne diseases) merupakan permasalahan kesehatan masyarakat yang banyak dijumpai dan penyebab signifikan menurunnya produktivitas ekonomi. Di seluruh dunia terdapat jutaan orang, khususnya bayi dan anak-anak, yang menderita dan meninggal dunia setiap tahunnya akibat penyakit bawaan makanan tersebut. Meskipun peranan produsen dan pengolah makanan dalam menjamin keamanan makanan tidak boleh diremehkan, ada banyak kasus penyakit bawaan makanan yang dapat dicegah—dan banyak orang yang akan bisa diselamatkan jiwanya—jika penjamah makanan mendapatkan pendidikan serta pelatihan yang Iebih baik di bidang pengelolaan makanan sementara konsumen juga mendapatkan saran yang baik mengenai cara-cara memilih makanan mereka.

Pentingnya keamanan makanan, dan khususnya kebutuhan akan pendidikan mengenai keamanan makanan tersebut, telah menjadi fokus pembicaraan pada banyak pertemuan internasional. Konferensi Internasional WHO/UNICEF tentang Primary Health Care (Alma-Ata, 1978) menyatakan bahwa “pendidikan yang berkaitan dengan permasalahan kesehatan yang ada dan metode pencegahan serta pengendaliannya” merupakan unsur esensial di dalam pelayanan kesehatan primer. Promosi tentang makanan dan gizi yang benar dianggap sebagai komponen esensial lainnya. Pentingnya permasalahan tersebut dikemukakan kembali pada the World Summit for Children (New York, 1990), Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Environment and Health (Rio de Janeiro, 1992) dan Konferensi Internasional tentang Nutrition (Roma, 1992). Dalam Plan of Action-nya, konferensi Roma menyusun rekomendasi untuk “mendukung pendidikan konsumen bagi masyarakat yang berpendidikan dan berpengetahuan guna memberikan kontribusi mengenai berbagai praktik yang aman di rumah, partisipasi masyarakat serta asosiasi konsumen yang aktif”.

Dalam menanggapi seruan untuk melakukan promosi pendidikan kesehatan, termasuk pendidikan tentang keamanan makanan, pertemuanDewan Kesehatan Dunia yang ke-42 (the Forty-second World Health Assembly) mengeluarkan sebuah resolusi (WHA42.44) di tahun 1989 yang meminta WHO mendukung negara-negara anggota untuk memperkuat kemampuan nasional mereka dalam segala aspek promosi kesehatan, informasi publik dan pendidikan kesehatan. Selain itu, perhatian khusus juga harus diberikan pada perkembangan metodologi dan strategi yang baru dan efektif. Belakangan, pertemuan Dewan Kesehatan Dunia yang ke-46 (the Forty-sixth World Health Assembly) mengeluarkan resolusi (WHA46.7) yang mendesak negara-negara anggota untuk menurunkan insidensi penyakit bawaan makanan pada tahun 2000 dan untuk memperbaiki higiene masyarakat yang buruk.

Tanpa dipengaruhi semua perkembangan di atas, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tanggal 9 April 1985 mengadopsi panduan untuk perlindungan konsumen di mana setiap negara, khususnya negara berkembang, didorong untuk mengembangkan program pendidikan konsumen. Perlindungan konsumen terhadap bahaya yang mengancam kesehatan serta keselamatannya, kemudahan bagi konsumen untuk mengakses informasi yang memadai sehingga mereka dapat memilih menurut kehendak serta kebutuhannya berdasarkan informasi yang mereka peroleh (informed choice) dan pendidikan konsumen.

Meskipun sudah ada pengakuan ini, keamanan makanan—khususnya kebutuhan akan pendidikan keamanan makanan bagi konsumen dan penjamah makanan—kerapkali mendapatkan prioritas yang sangat rendah dalam program kesehatan nasional. Lebih lanjut, pentingnya keamanan makanan acapkali belum diakui dalam program pencegahan diare. Dalam penelaahan terhadap 67 artikel yang menguraikan dan mengevaluasi program pendidikan kesehatan di negara berkembang, tidak ada satu laporan penelitian pun yang dirancang untuk memberikan pendidikan kepada konsumen/penjamah makanan dalam hal keamanan makanan. Meskipun pentingnya keamanan makanan semakin disadari, ketidakpedulian terhadap permasalahan ini di masa lalu menyebabkan angka prevalensi penyakit diare tetap tinggi. Ada banyak program pendidikan kesehatan perorangan (higiene) untuk mencegah penyakit diare yang masih belum efektif karena keamanan makanan belum diperhitungkan.

Salah satu faktor yang turut menyebabkan kecilnya perhatian terhadap permasalahan ini mungkin kurangnya kesadaran di pihak pembuat kebijakan kesehatan dan petugas medis serta kesehatan mengenai konsekuensi kontaminasi makanan dan keferkaitan antara banyak penyakit dan makanan.

Referensi
Penyakit Bawaan Makanan

About these ads

One Response to “Penyakit bawaan makanan (foodborne diseases)”

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s