Mungkin Bukan Penyakit Alzheimer

Oktober 11, 2010

Mula-mula kami katakan kepada diri kami sendiri, “Itu semua hanya karena Ayah menjadi tua.” Bahkan dokternya juga mengatakan hal yang sama dan memberi tahu kami bahwa hal itu mungkin karena pengerasan pembuluh darah arteri di otak saja, sehingga kami pikir, ya, dia menjadi tua dan menderita penyakit akibat ketuaannya.

Tetapi kebingungannya bukanlah sekadar bagian usia tuanya, kami menemukan hal itu beberapa waktu kemudian. Akhirnya kami membawa dia ke dokter yang mau mendengarkannya, membuat pemeriksaan yang baik, serangkaian tes dan bersedia mengatakan kepada kami lebih banyak mengenai apa yang sedang terjadi.

Tempat yang baik untuk mencari kebenaran mengenai penyebab kebingungan yang dialami orang yang dirawat itu adalah dengan pemeriksaan fisik secara umum. Hal ini membutuhkan lebih daripada sekadar memeriksa suhu tubuh, denyut nadi dan tekanan darah.

Sekalipun demensia terutama disebabkan oleh penyakit Alzheimer, mungkin saja demensia itu berhubungan dengan penyakit akut atau kronis. Ketika hal ini luput di- diagnosis dan tidak diobati, dapat memperburuk demensia akibat Alzheimer. Di lain pihak, beberapa kondisi ini mungkin dapat menjadi penyebab kebingungan tersebut.

Penyakit akut dan kronis serta cacat.
Jantung dan paru-paru berhubungan dengan penyakit-penyakit seperti gagal jantung kongestif, gangguan irama dan katup jantung, pneumonia dan bermacam-macam gangguan obstruksi kronis paru-paru yang mungkin berhubungan dengan berat-ringannya kekurangan oksigen di otak. Ke-kurangan oksigen ini — pada gilirannya — dapat menyebabkan episode akut kebingungan dan dapat menyebabkan demensia kronis.

Dalam beberapa kasus, penyebab kebingungan adalah ateroma kronis yang terbentuk dan menyebabkan penyempitan pembuluh darah yang mengalirkan darah ke otak. Disebut juga penyakit arteri koronaria atau aterosklerosis. Penyakit Arteri Koronaria (biasanya bersamaan dengan hipertensi/penyakit tekanan darah tinggi) mungkin — pada suatu saat — menyebabkan beberapa serangan stroke ringan atau kerusakan dalam otak. Hal ini dapat menimbulkan kebingungan, yang sering salah didiagnosis sebagai penyakit Alzheimer dan sering luput dari pemeriksaan kecuali jika orang tersebut mengalami stroke yang berat.

Gejala stroke ringan ini, lebih sering ditemukan pada laki-laki, yang disebut juga sebagai demensia multiinfark atau demensia vaskular (pembuluh darah). Ini juga merupakan penyebab kedua terbanyak kebingungan pada orang tua, kira-kira 35% semua demensia.

Tidak seperti penyakit Alzheimer, demensia multiinfark ini sering terjadi mendadak. Kemunduran yang terjadi biasanya bertahap disertai plateau. Mungkin terdapat bukti kerusakan saraf lokal atau fokal yang spesifik seperti kelemahan otot lengan atau tungkai atau bicara yang kacau, berlawanan dengan kemunduran pada penyakit Alzheimer yang lebih berangsur-angsur dan terjadi menyeluruh. Dengan mengutarakan riwayat pribadi orang yang dirawat itu, Anda dapat membantu dokter untuk membedakan Alzheimer dan demensia multiinfark tersebut.

Orang dapat — dan sering terjadi — menderita demensia multi-infark bersamaan dengan penyakit Alzheimer. Mengapa panting sekali mengetahui penyebab pasti kebingungan yang dialami seseorang9 Pengobatan medis dan/atau operasi sering dapat menghilangkan atau mengurangi sebagian besar kemungkinan serangan stroke jika kebingungan yang terjadi lebih berhubungan dengan penyakit pembuluh darah dibandingkan proses penyakit Alzheimer. Suatu diagnosis yang akurat dapat membantu meningkatkan kesehatan.

Juga ada penyakit-penyakit lain yang menimbulkan gejala-gejala seperti demensia yang progresif. Yang sangat panting adalah penyakit Huntington chrorea, Penyakit Pick, multiple-sklerosis, amyotropic lateral siderosis; penyakit Parkinson dan penyakit CreutzfeldtJakob, penyakit gangguan otak yang jarang terjadi.

Kerusakan dan gangguan daya sensoris mungkin juga menjadi faktor kebingungan. Kadang-kadang, bila orang tua menjadi pelupa atau pembingung, mungkin mereka menderita kelemahan dalam pendengaran dan/atau penglihatannya. Kedua kondisi di atas mungkin dapat dikoreksi dengan operasi atau alat bantu mekanik.

Defisiensi (kekurangan zat makanan).

Otak memerlukan zat makanan yang bergizi agar dapat tetap berfungsi. Jika tidak cukup zat yang bergizi, maka dapat menyebabkan bingung, lupa, gelisah dan depresi.

Orang — terutama orang tua yang tinggal sendirian — dapat menderita sejumlah kondisi yang berhubungan dengan kekurangan zat makanan ini. Jika lupa makan atau tidak cukup menyantap makanan yang bergizi, mereka mungkin menderita defisiensi makanan bergizi dan malnutrisi kronis. Kecanduan alkohol kronis dapat juga menjadi penyebab. Kedua kondisi di atas berhubungan dengan kekurangan vitamin Kekurangan beberapa vitamin dapat menimbulkan gejala-gejala yang mirip demensia. Keracunan makanan dapat juga menimbulkan kebingungan.

Depresi.
Depresi dan depresi maniak merupakan dua keadaan lain yang dapat menimbulkan gejala serupa penyakit Alzheimer, dan harus selalu dipertimbangkan bila terdapat keadaan hilang ingatan. Orang-orang yang mengalami depresi umumnya tampak pasif, tidak membutuhkan pertolongan, tidak mempunyai harapan dan bingung. Tingkah laku dan intelektualnya menjadi lebih lemah daripada biasanya, sedangkan pada depresi maniak mengalami perubahan emosi yang berganti-ganti antara sangat bergairah atau maniak dan sangat depresi.

Awal timbul depresi biasanya lebih cepat daripada awal timbul penyakit Alzheimer dan mungkin dipacu oleh suatu kejadian khusus seperti kematian pasangannya atau kehilangan pekerjaan. Sering pula dibarengi dengan tanda-tanda fisik seperti lemas, sulit tidur dan menurunnya berat badan dan nafsu makan.
Dua puluh sampai dua puluh lima persen depresi me-nyertai penyakit Alzheimer, yang — pada gilirannya — memperberat gejala-gejala demensia. Meskipun penyakit Alzheimer tidak dapat diobati, namun depresinya sering berhasil diatasi dengan obat-obatan anti-depresi.

Obat-obatan.

Salah satu kasus penyebab kebingungan yang paling sering terjadi pada orang-orang tua dan masih dapat ditolong adalah keracunan obat. Dampak samping bermacam-macam obat telah melampaui tujuan obat tersebut. Banyak yang mengakibatkan efek samping yang berbahaya termasuk depresi, disorientasi dan gejala-gejala mirip demensia yang lain.

Keracunan obat dapat diakibatkan oleh satu jenis obat tertentu atau kombinasi beberapa jenis obat yang dapat menghasilkan efek keracunan, biasanya karena kadaluwarsa. Bukanlah jarang orang tua meminum se-jumlah obat yang berbeda, yang mungkin sudah disimpan lama. Beberapa obat ini dapat menetralkan efek obat yang lain bila diminum bersama. Atau bahkan dapat menjadi lawan dan malah mempercepat penyerapan obat yang kedua, dan sering berakibat kelebihan dosis obat kedua tersebut. Semua obat, memiliki efek samping yang potensial, termasuk obat yang kita kira tidak berbahaya seperti penghilang rasa sakit, obat batuk dan obat pencahar yang didapat dari toko obat bebas.

Obat-obatan memiliki kecenderungan meningkat lebih besar dalam tubuh orang-orang tua karena penurunan kemampuan penyaringan ginjal. Sirkulasi darah yang buruk, metabolisme umum yang menurun, sembelit dan penurunan fungsi detoksifikasi (menetralisirkan racun) hati dapat menjadi penyebab keracunan obat pada segala usia.

Obat-obatan juga dapat mengganggu penyerapan vitamin, mineral dan zat gizi yang lain. Sebagai contoh pemakaian sejumlah antasida yang berlebihan dapat menimbulkan defisiensi tiamin (vitamin B1). Obat-obatan dapat juga mengganggu keseimbangan gizi dan elektrolit dalam tubuh yang — pada gilirannya — dapat mengakibatkan ‘bingung’. Obat apa pun yang sudah sangat biasa digunakan, seperti obat pencahar, dapat mengacaukan keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh.

Orang-orang tua terkadang meminum alkohol dalam bentuk anggur bersamaan dengan obat batuk yang dijual bebas atau vitamin. Alkohol tidak dapat bercampur baik dengan banyak obat. ‘Bingung’ merupakan salah satu efek yang paling sering terjadi di sini. Bila kita membawa orang yang kita rawat ke rumah sakit atau ke klinik dokter, kita perlu membawa serta obat-obatan yang diminumnya, baik yang dibeli atas resep dokter maupun obat bebas atau — sekurang-kurangnya — catatan obat-obatan yang sudah diminumnya dan berapa lama sudah meminum obat-obatan tersebut. Obat-obatan harus dipertimbangkan sebagai faktor penyebab bila dicurigai terjadi demensia.

Referensi: Penyakit Alzheimer – BPK Gunung Mulia

One Response to “Mungkin Bukan Penyakit Alzheimer”

  1. arofanti Says:

    Terima kasih atas postingan ini. Saya sedang mencari tempat atau referensi dimana saya bisa mendapatkan diagnosa yang tepat, menyeluruh dan konklusif untuk ibu saya. Apa bisa bantu? Terima kasih banyak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s